Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia yang paling mulia saja tidak tahu masa depan dan ilmu ghaib. Beliau berkata, sekiranya tahu, pasti akan banyak kebaikan dan keberuntungan yang didapat kini. Umpamanya keadaan sulit bisnis, keuangan dan sebagainya. Akan tapi beliau tidak tahu masa depan dan hal ghaib.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (aduhai Muhammad): Aku tidak kuasa mendatangkan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula kuasa menolak kemadharatan selain yang dikehendaki Allah. Dan andaikata aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membikin kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemadharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi spaceman peringatan, dan pembawa kabar bergembira bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-A’raf/7: 188).

Yaitu fakta, di awal tahun baru, ramalan-ramalan timbul di televisi, media dan surat kabar baik berupa ramalan seketika dari peramal ataupun berupa zodiak dan ramalan bintang. Beberapa orang bahkan hakekatnya tidak percaya sebab memang tidak masuk nalar akan tapi mereka tetap ikut serta sekedar coba-coba, iseng ataupun sekedar meramaikan. Ramalan ini dapat menjadi musibah baik dunia dan akhirat bagi pelakunya walapun sekedar iseng.

Percaya dengan ramalan ilmu ghaib dapat diancam dengan kekafiran
Percaya dengan ramalan merupakan musibah sebab diancam dengan kekafiran. Tentu saja musibah besar di akhirat kerena dapat diancam kekal di neraka. Wal’iyadzu billah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia mengkoreksinya, maka ia berarti telah kufur pada (Al-Qur’an) yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9532, hasan).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَّرَ أَوْ سُحِّرَ لَهُ

“Bukan termasuk klasifikasi kami siapa saja yang beranggapan naas atau membetulkan orang yang beranggapan naas, atau siapa saja yang mendatangi tukang ramal atau membetulkan ucapannya, atau siapa saja yang menjalankan perbuatan sihir atau mengkoreksinya.” (HR. Al Bazzar dalam Musnad-nya).

Tidak hanya mendatangi saja, tapi sekedar percaya saja dapat diancam juga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

“Barangsiapa mengambil ilmu perbintangan (seperti zodiak seumpama, pent), maka ia berarti telah mengambil salah satu cabang sihir, akan bertambah dan terus bertambah.” ( HR. Abu Dawud (3905), Ibnu Majah (3726), Ahmad (1/227, 311) dan Asy-Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2/435)).

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata, “Adapun pemberitaan mengenai masa depan (ramalan) yang timbul dari ilmu perbintangan (astrologi/ramalan zodiak) merupakan bertolok ukur dengan situasi bintang terhadap kejadian di bumi. Maka hal ini sebagaimana perkataan syaikul Islam Ibnu Taimiyyah, ‘Hal ini merupakan perbuatan orang jahiliyah dan Islam telah datang untuk meniadakan dan melarangnya. Termasuk hal ini apa yang tersebar di sebagian majalah-majalah yang di ketahui dengan “untung dan buntung” (ramalan zodiak) dengan bertolok ukur pada rasi bintang kelahiran atau safar atau yang semisalnya berupa kebohongan dan hal mistis.” (Dinukil dari: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/2283).

Berbahaya juga meski sekedar iseng coba-coba
Sedangkan ia tidak percaya, tapi sekedar coba-coba, iseng dan sekedar ikut serta meramaikan, maka ini juga musibah. Sebab sekedar mendatangi tukang ramal saja, maka shalat tidak diterima empat puluh hari. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama empat puluh hari tidak diterima.” (HR. Muslim no. 2230).

Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan,

وأما عدم قبول صلاته فمعناه أنه لاثواب له فيها وإن كانت مجزئة في سقوط الفرض عنه ولايحتاج معها إلى إعادة

“Adapun maksud tidak diterima shalatnya merupakan orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat mengaborsi kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.” (Syarh Muslim lin-nawawi, 14/227)

Sedangkan shalat merupakan amal yang pertama kali ditimbang, sekiranya baik maka baik semua amal dan sebaliknya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

أول ما يحاسب عليه العبد الصلاة فان صلحت صلح سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله

“Pertama kali yang dihisab pada hari kiamat merupakan shalat, sekiranya shalatnya baik maka baiklah semua amalannya, dan sekiranya shalatnya rusak, maka rusaklah semua amalannya.” (HR. Thabrani dan Ash Shahihah 3/346 oleh Asy Syaikh Al-Albani)

Dan shalat merupakan tiang agama. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ، وَذَرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ

“Inti dari semua perkara (agama) merupakan Islam, tiangnya merupakan shalat, dan puncaknya merupakan jihad.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh As Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 2/138).

Hanya Allah yang tahu Ilmu ghaib
Terang para peramal tidak tahu masa akan datang sebab hanya Allah yang tahu ilmu ghaib. Allah Ta’ala berfiman,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, selain Allah” (QS. An Naml: 65).

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sebenarnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan perihal Hari Akhir; dan Dia-lah Sebenarnya menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang bahkan yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang bahkan yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sebenarnya Allah Maha Mengenal lagi Maha Hanya” (QS. Luqman: 34).

Hanya sebagian makhluk saja yang tahu masa yang akan datang sebab memperoleh wahyu dari Allah. Mereka merupakan orang yang Allah ridhai dari klasifikasi Rasul. Adapun peramal, terang tidak diridhai oleh Allah.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Ilmu ghaib di sisi Allah hanyalah khusus bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Allah mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan apa yang tidak terjadi sekiranya terjadi dan bagaimana kejadiannya. Allah mengetahui apa yang terjadi di akhirat, surga, dan neraka. Mengenal siapa-siapa yang selamat dan binasa. Mengenal penduduk surga dan penduduk neraka dan mengetahui semua sesuatu. para Rasul mengetahui dengan perantara wahyu dan apa yang Allah wahyukan terhadap mereka sebagaimana firman Allah, ‘Allah mengetahui hal ghaib, tidaklah ia memperlihatkan terhadap seseorangpun selain yang ia ridhai dari klasifikasi para rasul‘” (QS. Al-Jin: 26-27).”