Bunda dari si kecil-si kecil yang mulai belajar puasa Ramadhan perlu memutar otak dan berdaya upaya kreatif supaya buah hati bisa mulai membiasakan diri dengan ibadah tersebut.

Pasalnya, si kecil-si kecil perlu mengetahui keharusan mereka sebagai umat Islam sejak dini. Bagus si kecil-si kecil secara biasa maupun si kecil-si kecil dengan disabilitas atau kebutuhan khusus.

Salah satu member Indonesia Rare Disorder (IRD) Wahyuni, membagikan cerita saat dirinya mengajarkan puasa pada buah hati yang menyandang suspect duchenne muscular dystrophy (DMD), Xavier.

DMD yakni kondisi melemahnya fungsi otot rangka dan otot jantung dalam tubuh yang bisa memburuk dengan kencang seiring waktu. Namun, sebab diagnosis Xavier belum tegak, karenanya disematkan kata “suspect” atau baru dugaan berdasar kondisi klinisnya.

Wahyuni berkisah, dirinya mulai slot 777 mengenalkan puasa pada putranya sejak menginjak umur 5 tahun. Bermacam-macam sistem bahkan dilaksanakan supaya sang si kecil bisa berpuasa setidaknya separo hari.

Salah satu sistem yang dia lakukan yakni membawa serta sang si kecil untuk ikut mengantar paket.

“Waktu Xavier umur 5 tahun diajak puasa pertama kali. Biar lupa meminta susu, dari pagi sampai siang ikut ngojek ngaterin paket. Zuhur diajak pulang terus buka. Habis itu, jam 14.00 diajak tidur sampai sore, Alhamdulilah satu bulan full (puasa separo hari),” kata Wahyuni terhadap Disabilitas Liputan6.com melalui pesan teks, Selasa, 12 Maret 2024.

Sekarang, di umur 10 tahun tepatnya pada puasa pertama di Ramadhan tahun ini, Xavier sudah bisa puasa sampai magrib. Wahyuni berencana dan ingin supaya tahun ini puasa putranya bisa penuh selama satu bulan.

Belajar Puasa Kali Dibumbui Drama
Kecuali Wahyuni, member IRD lainnya ikut berbagi cerita. Melansir ini cerita datang dari Herlina, ibu dari si kecil dengan Apert Syndrome, Wildan.

Hasilnya Cleveland Clinic, Apert Syndrome yakni kondisi genetis langka yang terjadi saat sendi di tengkorak bayi menutup terlalu kencang selama perkembangan bayi dalam kandungan.

Ramadhan, tengkorak, wajah, tangan, dan kaki bayi menonjolkan karakteristik berbeda yang mendiagnosis kondisi tersebut, termasuk jari tangan dan kaki berselaput serta memiliki dahi yang lebar dan tinggi.

Herlina ingin, Ramadhan tahun ini putranya yang menginjak umur 8 tahun bisa puasa sampai magrib.

“Insyaallah ingin saya acarain full sampai maghrib. Tahun kemarin kadang magrib, kadang zuhur bisa drama dia.

Mengalihkan Drama Wildan
Seperti ibu lain, Herlina juga kerap kali menghadapi drama-drama dari sang si kecil saat belajar puasa. Untuk itu, dia berupaya mengalihkan drama yang ada dengan berjenis-jenis sistem.

“Mengalihkan drama Wildan meminta minum haus saya ajak nonton Jikalau Upin Ipin. Dengan TV bimbingan udah jikalau 11 tahun puasa ingin magrib wajib boleh zuhur. Jikalau puasa zuhur itu waktu Wildan TK.”

“Alhamdulillah dia nurut sambil nonton Upin Ipin, saya ajarin baca sebab Wildan sudah sudah huruf kenal belum bisa baca InsyaAllah saya yakin Wildan bisa. Selesai baca, menulis angka, Alhamdulillah nurut.”

Jikalau bosan di rumah, Wildan jikalau main di sekitar rumah gembira ke umpamanya ayam.

“Pulang zuhur sangkar pada baju, saya mandiin, saya terus tidur. Jikalau sore Wildan pasti meminta jalan -jalan ke taman main perosotan dan lain-lain,” meminta.

Seluruh Progresnya Member
Member IRD lainnya ikut ikut pandangannya. Melansir yakni Vera, ibu dari si kecil dengan Angelman Syndrome, Kaisar.

Hasilnya Mayo Clinic, Angelman Syndrome yakni suatu kondisi yang disebabkan oleh perubahan gen, yang disebut perubahan genetis. Sindrom Angelman menyebabkan keterlambatan perkembangan, genetis bicara dan keseimbangan, disabilitas mental, dan masalah kejang.

Di bulan Ramadhan ini, Vera lebih memilih untuk ucapnya merasakan semua.

Terus progresnya bimbingan saya saya satu, mencoba ucapnya aja semuanya. Enjoy aja merasakan kadang begadang sampe pagi, Kaisar juga ikut sahur, kenal belum bisa puasa,” katanya.